Idul Fitri 1428 H.

Hari raya adalah kebahagian seorang hamba tak terkira karena kembali ke asal penciptaan atau terlahir kembali, bak bayi yang polos tiada dosa.
Namun, benarkah kita sudah kembali ? Benarkah kita sudah merasa pantas untuk bahagia ? Lihatlah diri kita…

Puasa adalah bulan dimana oleh Rasulullah dibagi menjadi 3 bagian ; awwaluhu rahmah, wa awsatuhu maghfiroh, wa akhiruhu itqun minan nar (awalnya penuh rahmat, ditengahnya ampunan, dan diakhiri dengan ganjaran bebas siksa api neraka).
Sepuluh hari pertama adalah free charging dari Allah Ta’ala. Rahmat Allah adalah segalanya bagi manusia. Dengan rahmatNya lah manusia bisa diterima dan masuk surga. Jangan dibayangkan karena amal kebajikan… Salah besar. Amal amal itu sekedar untuk mencari ridhoNya sehingga kita mendapat rahmatNya. Amal kebajikan nantinya juga untuk menentukan surga tingkatan surga, berikut fasilitas2 nya. Terlalu sombong jika manusia mengklaim bisa masuk surga karena amalnya. Inilah yang “mungkin” dimaksud dalam ayat puasa yang diakhiri dengan kata “la’allakum tattaqun” (semoga saja mereka termasuk orang2 yang bertakwa).. Udah capek laper berpuasa masih dibilang “semoga”..
Sepuluh hari kedua adalah hari2 maghfiroh (ampunan). Kata maghfiroh sebetulnya lebih bermakna proteksi, berbeda dengan ‘afwun yang berarti maaf dan ampun tiada dosa. Maksudnya, meski masih ada dosa, seseorang akan dilindungiNya, inilah maghfiroh. Perbedaan akan sangat terlihat ketika di akhirat, saat Allah membeir ampunan, belum tentu makhluq yang lain mengampuni, mereka berhak untuk menuntut. Disinilah proteksi berfungsi, mungkin ada nego khusus dengan memberi bagian amal kebajikan kepada yang didholimi atau dengan cara yang lain, wallohu a’lam.
Sepuluh hari terakhir hari2 dimana kita mendapatkan pembebasan dari api neraka. Hal ini jika kita mendapatkan lailatul qodar yang lebih baik dari seribu bulan itu. Dihitung saja, 1000 bulan dibagi 12 (bulan)… 83 tahun lebih. Usia rata2 manusia adalah 60an tahun. Bisa dibayangkan, mendapat rahmat Alloh 83 tahun. Jika seumur hidupnya dipenuhi kejahatan lalu dia mendapatkan lailatul qodar, dimanakah tempatnya nanti? Setelah melalui timbangan amal, tentu masih berat amal kebaikan, dan mestinya pintu surga terbuka lebar untuknya. Inilah maksud bebas api neraka. Dan inilah pula yang dimaksud idul fitri, kembali ke masa suci.
Bagaimana? Sudahkah kita mendapat lailatul qodarnya, sehingga kita pantas ber-idul fitri? Memang tak sepenuhnya harus seperti itu.. Lailatul qodar hanyalah sekedar pancingan agar hambaNya berebut mencari perhatian, sekaligus mendapat ridhoNya…

wis, kesel..

Advertisements

About nabawea

aku si cakep yang manis yang ayu yang cantik yang pinter
This entry was posted in asal omong. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s